Showing posts with label biologi. Show all posts
Showing posts with label biologi. Show all posts

Thursday, May 22, 2008

Spesies Paling Terancam Punah

Organisasi lingkungan Wildlife Coservation Society (WCS) merilis 12 spesies paling terancam punah saat ini dalam daftar "Rarest of the Rare." Dalam daftar yang dirilis Jumat (16/5) itu tedapat jenis mamalia, ikan, reptil, amfibi, dan serangga.

"Rarest of the Rare adalah potret sejumlah kecil spesies yang paling terancam punah untuk menggambarkan perjuangan mereka dan menginspirasi publik untuk berjuang mempertahankannya," ujar Kent Redford, direktur WCS Institute.

Pada tahun 2007, WCU/IUCN (World Corservation Union /International Union for Conservation of Nature) melaporkan bahwa jumlah hewan yang terancam punah di seluruh dunia mengalami kenaikan. Saat ini, dalam daftar merah WCS/IUCN terdaftar 16.306 hewan terancam punah atau naik 188 spesies daripada tahun 2006.

Ancaman yang dihadapi setiap jenis spesies berbeda-beda. Spesies endemik biasnya menghadapi persaingan sengit dengan spesies pendatang yang berkembang pesat. Sebab lainnya, kerusakan lingkungan yang menyebabkan perubahan habitat, perburuan liar, atau wabah penyakit mematikan.

Daftar 12 spesies yang paling terancam punah versi WCS tersebut adalah sebagai berikut:

1. Burung booby Abbott
Burung laut besar yang memiliki warna khas hitam putih ini hanya hidup di Pulau Christmas, di Samudera India.

2. Kambing Addax
Antelop atau sejenis kambing gunung yang memiliki tanduk spiral yang panjang ini aktif di malam hari dan hidup di gumuk pasir Gurun Sahara.

3. Ikan hiu malaikat
Predator laut yang aktif di malam hari, menjelajah dekat dasar laut di perairan Atlantik bagian Utara, Laut wcs release rerest of the rareMediterania, dan Laut Hitam.

4. Burung puyuh Florican Benggala
Burung puyuh darat berukuran besar ini hanya hidup di Kamboja, Nepal, Vietnam, dan India.

5. Monyet tamarin singa berwajah hitam
Jenis primata ini hidup di lubang pepohonan yang dibuat burung pelatuk dan makan serangga, buah, serta tumbuh-tumbuhan. Ditemukan pertama kali tahun 1990 di Superagui, Brazil dan jumlhanya tinggal tersisa 400 ekor.

6. Penyu Birma
Salah satu jenis penyu endemik Myanmar ini pernah banyak ditemui di sungai-sungai bagian tenag hingga selatan Myanmar. Namun, saatini sudah sangat jarang akibat perburuan daging maupun telurnya.

7. Capung Sri Lanka
Dari 53 spesies capung endemik di Sri Lanka, 20 di antaranya terancam punah.

8. Katak hijau beracun Panama
Jenis katak dari Panama ini menghadapi kematian massal akibat wabah penyakit mematikan yang dibawa jamur.

9. Paus Atlantik Utara
Diburu sejak abad ke-10, jenis paus yang betanya mencapai 100 ton ini tinggal tersisa 350 ekor.

10. Iguana Ricord
Jenis reptil yang kulit terluarnya sangat cantik ini hanya ditemui di kawasan kering di barat daya Republik Dominika.

11. Kuda nil kerdil
Kuda nil bertubuh kecil yang hidup di hutan-hutan bagian utara LIberia, Guinea, Pantai Gading, dan Sierra Lione.

12. Badak Sumatera
Hewan tersebut dikenal juga dengan sebutan badak Asia bermabut atau badak bercula dua. Badak yang hidup di hutan tropis Indonesia dan Malaysia diperkiraka tinggal tersisa 300 ekor.

Wednesday, February 06, 2008

si buah beri


Jenis cacing parasit di Panama dapat menyulap tubuh semut inangnya menjadi tampak seperti buah beri yang ranum. Perut semut yang merah berisi akan menarik perhatian burung untuk mematuknya sehingga cacing punya kesempatan menyebar ke mana-mana.
Siasat yang diambil cacing-cacing parasit itu pertama kali diamati oleh Robert Dudley dari Universitas California Berkeley, AS dan Steve Yanoviak dari Universitas Arkansas. Mereka mengatakan hubungan semacam ini merupakan temuan baru dalam dunia sains hewan.
Semut hitam yang hidup di hutan Panama bukanlah makanan burung karena bau dan rasa tubuhnya yang getir. Para ilmuwan selama ini belum pernah melihat burung makan semut, namun kadang-kadang ternyata melakukannya.
"Saya jelas-jelas melihat burung-burung datang dan berhenti sebentar barang sedetik ke dekat semut-semut itu sebelum akhirnya terbang, mungkin karena semut bergerak menjauh," ujar Dudley. Jadi, ia yakin burung-burung pemakan buah menganggapnya mangsa yang empuk.
Setelah diamati, sebagian dari semut-semut tersebut ternyata menunggingkan perutnya yang berwarna merah ke atas. Padahal pada kondisi normal, semut tersebut berwarna hitam.
Semut-semut yang perutnya menjadi merah itu ternyata mengandung cacing parasit dari spesies Myrmeconema neotropicum seperti dilaporkan dalam jurnal Systematic Parasitology edisi Februari 2008. Cacing tersebut termasuk kelompok nematoda, tubuhnya silinder tetapi tidak bersegmen.
"Ini fenomenal karena nematoda mengubah semut menjadi merah menyala dan mirip sekali dengan buah-buahan di kanopi hutan," ujar Yanoviak. Strategi yang dilakukan cacing juga begitu sempurna karena tidak hanya mengubah tampilan semut, tetapi juga perilaku semut.
Akhirnya, jika burung tertarik memangsa semut, telur-telur cacing punya kesempatan tersebar ke mana-mana dan dengan mudah memperoleh nutrisi untuk berkembang biak di kotoran burung.

Thursday, November 15, 2007

Gen Kegemukan Mungkin Kuasai Gen Lain

Satu gen yang sangat kelihatannya mempengaruhi orang untuk menjadi gemuk mungkin menguasai gen lain juga, dan mungkin mempengaruhi beberapa bagian orak yang berkaitan dengan nafsu makan, demikian laporan beberapa ilmuwan Inggris, Kamis (08 Nopember 2007 ).
Gen FTO ditemukan awal tahun ini dan ditemukan di lebih dari separuh orang Eropa yang ditanyai. Gen tersebut kelihatannya menguasai enzim yang dapat bertindak secara langsung atas DNA untuk mengubahnya, yang menunjukkan gen itu mungkin membantu "menghidup dan mematikan" gen lain, kata satu tim dari University of Oxford dan University of Cambridge di Inggris.
Gen FTO juga tampaknya sangat aktif di "hypothalamus", satu bagian otak yang penting dalam pengendalian rasa lapar. Tingkat gen FTO tampaknya dipengaruhi oleh pemberian makanan dan berpuasa, lapor para peneliti tersebut di jurnal Science.
"Ini merupakan pandangan sekilas mengenai mekanisme yang mungkin. Ini adalah varian genetika yang sangat umum yang mungkin mempengaruhi resiko seseorang menjadi gemuk," kata Stephen O'Rahilly dari University of Cambridge.
"Temuan bahwa FTO adalah satu enzim yang melakukan aksi ini pada DNA sangat mengejutkan dan banyak pekerjaan masih diperlukan guna merancang bagaimana aksi ini mempengaruhi berat badan," katanya dalam suatu pernyataan.Pada April, Andrew Hattersley dari Peninsula Medical School di Exeter dan Plymouth dan Mark McCarthy dari University of Oxford melaporkan mereka telah menemukan satu versi FTO yang meningkatkan resiko seseorang menjadi gemuk, dan itu sangat umum ditemukan pada orang yang dipelajari --63 persen memiliki satu atau dua salinannya.
Orang dengan dua salinan memiliki sebanyak 70 persen resiko yang lebih besar untuk menjadi gemuk dibandingkan dengan orang yang tak memilikinya dan rata-rata hampir 3 kilogram lebih berat daripada objek serupa yang tak memilikinya. Mereka yang memiliki satu salinan gen memiliki resiko yang lebih rendah tapi tetap tinggi.Thomas Gerken dari University of Oxford, O'Rahilly dan rekannya mempelajari fungsi FTO dan terkejut dengan apa yang mereka dapati."Itu mungkin memainkan peran dalam mempengaruhi sejauh mana otak merasakan lapar dan kenyang," kata O'Rahilly.
Mereka mengatakan obat dapat berpotensi digunakan guna mengubah fungsinya dan ancaman kegemukan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 1,6 miliar orang dewasa di seluruh dunia kegemukan dan sedikitnya 400 juta orang dewasa berbadan gemuk. Jumlah itu meliputi sepertiga dari seluruh orang dewasa di AS.